Di tengah wabah virus yang tidak memungkinkan pertemuan dilakukan dengan tatap-muka, Jalur Timur berinisiatif menyelenggarakan program percakapan dan diskusi sekaligus nongkrong secara daring, yang dilakukan bukan hanya sebagai respon atas kondisi krusial secara global, tapi juga sebagai upaya untuk menyebarkan dan mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman tentang bagian timur Indonesia dengan memanfaatkan teknologi terkini yang mudah diakses dan dioperasikan. Dengan memakai platform online, program ini akan digelar dalam beberapa kali pertemuan secara berkala. Selama sesi berlangsung akan ada perekaman suara, dan hasil rekaman akan diunggah di portal jalurtimur.org dan riwanua.id sehingga bisa diakses oleh siapa saja yang berminat.

Sejak Mei 2020, Mengalami Timur digelar sebagai program percakapan dan diskusi dari Jalur Timur secara daring (online). Program ini mengajak sejarawan, seniman, aktivis, penulis, pengajar dll. dari berbagai lokasi dan tempat untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya tentang bagian timur Indonesia.

Mengalami-Timur-I_Hilmar-Farid

Pada sesi perdana Mengalami Timur ini, pada Minggu, 29 Maret 2020, yang menghadirkan Hilmar Farid sebagai sejarawan, dibahas tentang lintasan peristiwa dan pelaku sejarah sosial di bagian timur Indonesia dari era pra-kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan dan kaitannya dengan gegap-gempita yang terjadi di kawasan lain di Indonesia, termasuk di Pulau Jawa, dan juga di belahan dunia lainnya.

Mengalami Timur_II_Nana Saleh

Sesi ke-II yang digelar pada 17 April 2020 ini, membahas kawasan timur Indonesia dan kaitannya dengan buku SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan yang diterbitkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Buku ini terdiri dari 8 gugus pertanyaan yang saling terkait satu sama lain. Kedelapan gugus itu antara lain: I. Identitas, Keragaman, dan Budaya; II. Kepulauan, Kelautan, dan Sumber Daya Hayati; III. Kehidupan, Kesehatan, dan Nutrisi; IV. Air, Pangan, dan Energi; V. Bumi, Iklim, dan Alam Semesta; VI. Bencana dan Ketahanan Masyarakat terhadap Bencana; VII. Material dan Sains Komputasi; serta VIII. Ekonomi, Masyarakat, dan Tata Kelola.

Mengalami Timur III

Mengalami Timur III – Pengasingan Dalam Politik Kolonial di Timur Indonesia – Bonnie Triyana

Sesi III pada Kamis, 28 Mei 2020 ini membahas tentang era kolonialisme ketika sejumlah tokoh-tokoh politik diasingkan di berbagai lokasi yang saat ini dikenal sebagai bagian timur Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul, antara lain: kenapa lokasi-lokasi tersebut dipilih oleh pihak penjajah menjadi tempat pengasingan politik? Apa saja warisan sejarah dari pengasingan tersebut yang bisa dipelajari saat ini?

Mengalami Timur IV

Mengalami Timur IV – Gotong Royong di Timur Indonesia – M. Nawir

Sesi IV pada Rabu, 30 Desember 2020 ini menggali perihal budaya gotong royong di wilayah timur Indonesia yang meski pun secara umum sama dengan praktik gotong royong di belahan bumi lain, tentunya punya spesifikasi tersendiri juga. Budaya gotong royong yang dimaksud di sini tentu saja selain dari budaya tradisi yang terus tumbuh, melekat, sekaligus bertransformasi sesuai zaman, pun pula budaya gotong royong yang terjadi di masa kini di dalam bentuk-bentuknya yang baru.

Mengalami Timur V

Mengalami Timur V – Irama Nusantara dan Musik dari Timur Indonesia – David Tarigan

Pada sesi ke V, Sabtu, 24 Juli ini membahas dan membicarakan sejarah musik Indonesia, khususnya bagian timur Indonesia, bagaimana distribusi rilisan tersebut bisa sampai ke wilayah-wilayah yang lagunya berasal dari daerah tersebut, soal beberapa katalog dari label rekaman yang banyak merilis album musik dari lagu-lagu daerah Maluku dan juga mengorbitkan musisi dari daerah itu (Broery Pesolima, misalnya), juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana upaya Irama Nusantara untuk terus mencari arsip musik yang masih bertebaran di antara para pelapak piringan hitam dan kaset, dari para kolektor, dan masyarakat umum yang merasa pentingnya arsip musik Indonesia untuk disebarluaskan dan dijadikan pengetahuan.

Mengalami Timur VI

Mengalami Timur VI – Kisah Bandit – Taufik Ahmad

Melalui Mengalami Timur pada sesi ke – VI, Sabtu, 28 Agustus 2021 ini, alih-alih kita membahas apakah para bandit jahat atau baik, atau apakah di akhirat kelak mereka akan masuk surga atau neraka, di sini kita akan membahas kondisi seperti apa yang memungkinkan tindakan perbanditan mengada, konteks sosial, kultural, ekonomi, dan politik, seperti apa yang melatari tindak-tanduknya, atau apa motif dari tindakan perbanditan; tentang bagaimana penguasa yang silih berganti meredam tindakan perbanditan dengan otoritasnya masing-masing; serta bagaimana tindakan perbanditan balik memengaruhi kekuasaan itu sendiri.

Mengalami Timur VII

Mengalami Timur VII – Ayam Jantan Dari Segala Penjuru Mata Angin – Faisal Oddang

Sesi ke- VII pada 30 September 2021 ini membahas ayam jantan, namun bukan hanya Ayam Jantan dari Timur, melainkan Ayam Jantan dari segala Penjuru Mata Angin. Di dalamnya, kita akan membicarakan tentang praktik memelihara, mengoleksi, dan menyabung ayam jantan; tentang bagaimana kaitan praktik main ayam dengan konstelasi sosial, budaya, ekonomi, dan politik; hingga ke istilah Ayam Jantan sebagai julukan, serta bagaimana istilah itu dinarasikan berulang-ulang kali dan secara terus-menerus sampai sekarang.

Mengalami Timur VIII

Mengalami Timur VIII – Larantuka – Makassar 15 Knot – Berto Tukan

Sejarah Larantuka tidak bisa dilepaskan dari apa yang pernah berlangsung di Kota Makassar. Ketika perang Makassar meletus pada 1660-an dan Kerajaan Gowa-Tallo takluk oleh Belanda pada 1667, gorang-orang Portugis-Malaka yang sebelumnya menetap di Makassar bermigrasi ke Larantuka yang kemudian bergabung bersama komunitas “Portugis Hitam” di sana. Makassar dan Larantuka juga terhubung dalam sektor perdagangan, yang terefleksikan dari upaya Raja Larantuka yang mengangkat syahbandar dari kelompok pedagang Makassar untuk mengelola perdagangan di Gelitting. Larantuka bahkan menjadi tempat singgah para pedagang Makassar yang hendak menjual tripang di tanah marege’ (Australia bagian utara). Hingga kini, tak sedikit pedagang-pedagang asal Bugis dan Makassar yang menetap dan mencari penghidupan di Larantuka.
_

MengalamiTimur-ix

Mengalami Timur IX – Kampung-Kampung Pelabuhan: Wakatobi 1960 – 1990 – Fathul Karimul Khair 

Sebelum dikenal sebagai daerah pariwisata dan ditetapkan sebagai kabupaten pada tahun 2003, Wakatobi dulunya disebut sebagai Kepulauan Tukang Besi yang terhubung erat dengan jaringan maritime nusantara. Masing-masing pulau yang ada di Wakatobi (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Tombino) memproduksi komoditas dan pola interaksi yang khas. Salah satunya adalah pola tuhura, di mana pertukuran barang menggunakan satuan khusus. Satu tuhura setara dengan tiga biji ubi, atau sepuluh potong ubi kayu dan kasbi (sejenis singkong), dapat pula berupa enam buah jagung. Namun, pola interaksi tersebut berubah akibat perubahan dari dalam dan dari luar (kebijakan nasional) seperti relokasi pemukiman, perubahan regulasi perdagangan kopra, dan program motorisasi perahu layar.

mt#10

Mengalami Timur X – Pesantren-Pesantren di Indonesia Timur – Darul Ma’arif Asry

Para pendiri pesantren di bagian timur Indonesia memiliki corak dan dinamikanya sendiri, serta bekerja sesuai dengan kondisi masyarakatnya, dalam hal ini Anregurutta di Sulawesi Selatan dan Tuan Guru di Nusa Tenggara. Pada Mengalami Timur #10 kali ini, akan dibicarakan mengenai Al-‘Alimu Al-Allamah Anregurutta KH. Muhammad As’ad Al-Bugisi (1907-1952) mendirikan Pondok Pesantren As’adiyah di Wajo pada 1930 dan Al-Magfurullah Maulana Syaikh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (1898-1997) yang mendirikan Nahdlatul Wathan dengan madrasah pertamanya pada 1934 di Nusa Tenggara. Keduanya memiliki komitmen yang kuat pada nilai-nilai kemanusiaan dalam segenap aktivitasnya, baik itu di bidang pendidikan, dakwah, ekonomi, kesehatan, komitmen kebangsaan, kesetaraan gender, lingkungan, dan dipercaya berbuah barakka’ (berkah) kepada para santrinya, hingga saat ini.

Mengalami Timur_XI

Mengalami Timur XI – Puisi- Puisi Dari Batas Negeri – Gody Usnaat

Tak banyak penyair yang berani menulis puisi dengan aksen lokal. Gody Usnaat adalah satu di antara yang sedikit itu. Sejumlah puisi dalam dua karyanya, Mama Menganyam Noken (2019) dan Bertemu Belalang (2022) ditulis menggunakan bahasa Indonesia dialek Papua. Tak hanya itu, tema-tema puisi yang hadir dalam bukunya, berangkat dari hal-hal yang dia amati dan saksikan selama menjadi guru di Desa Semografi, Kabupaten Keerom, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini, sejak 2014.

mtxii

Mengalami Timur XII – Dapur Rekaman Di Ujung Padang (1970 – 1998) – Fahmi Sukarta

Pada awalnya dapur rekaman di Ujung Pandang (sekarang Makassar) menggarap banyak genre musik tradisional seperti: langgam, gambus, kecapi, losquin, dan musik pengiring tarian tradisional. Namun karena musik tradisional kurang diminati oleh pasar sehingga muncul inisiatif dari sejumlah dapur rekaman untuk memadukan unsur musik tradisional Sulawesi Selatan dengan genre musik populer seperti, pop Melayu, dangdut, disco remix, dan reggae. Dimulai oleh para investor dapur rekaman asal Jakarta yang membuka cabang di kota ini, seperti Suara Mas, OK Records dan Special Records, sampai yang didirikan sendiri oleh pengusaha setempat, seperti Irama Baru Records, Libel Records, dan Jansen Records, era 1970-1998 adalah era ketika dapur-dapur rekaman di Makassar berhasil mengorbitkan bintang penyanyi, antara lain: Murtini Soeharto blasteran Jawa-Gorontalo, Hamsan Marliat yang berdarah Madura, maupun sang maestro kelahiran Makassar: Iwan Tompo. Dan tentunya juga nama-nama yang tidak muncul di panggung karena sibuk di belakang dapur rekaman, seperti: Tjiang, Riady Panorama, Theresia Hwo, Gunawan Elham dan Edwin S. Jansen.